Info Biografi Ulama Dunia !!

Hadist tentang masalah kebajikan

Hadist tentang masalah kebajikan - Selamat datang di blog Ulamainfo !!, Info kali ini adalah tentang Hadist tentang masalah kebajikan !! Semoga tulisan singkat dengan kategori allah swt !! alquran !! hadist nabi !! Hadist of the day !! imam ahmad !! islam !! religion !! sanad !! Syaikh 'Abdul-Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr !! ini bermanfaat bagi anda yang membutuhkan. Dan untuk anda yang baru berkunjung kenal dengan blog sederhana ini, Jangan lupa ikut menyebarluaskan postingan bertema Hadist tentang masalah kebajikan ini ke social media anda, Semoga rezeki berlimpah ikut di permudahkan sang khalik yang maha kuasa, Selengkapnya lansung lihat infonya dibawah -->


Dari An-Nawas bin Sim'an -radhiyallahuanhu- bahwa Nabi -shalallahualaihi wa sallam bersabda, "Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat orang lain". (HR Muslim).

Dan dari Wabishah bin Ma'bad -radhiyallahuanhu-, dia berkata, Aku datang kepada Rasulullah -shalallahualaihi wa sallam-, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?”. Aku berkata, "Ya". Beliau bersabda, "Bertanyalah kepada hatimu! Kebajikan adalah apa-apa yang membuat jiwa dan hati tenang, sedangkan dosa adalah apa-apa yang membuat jiwa gelisah dan menimbulkan keraguan dalam hati, meskipun orang-orang senantiasa membenarkanmu". Hadits hasan, telah diriwayatkan kepada kami dari Musnad Imam Ahmad bin Hambal dan Musnad Imam Ad-Darimi, dengan sanad yang hasan.

Penjelasan Hadist :
Al-Birru (kebajikan) merupakan sebuah kata yang sangat global, yang mencakup perkara-perkara batin yang terdapat di dalam hati, maupun perkara-perkara zhahir, yang dilakukan oleh lisan dan anggota tubuh. Bukanlah suatu kebajikan menghadapkan wajahmu… [QS. Al-Baqarah: 177].


Menunjukkan dengan jelas hal tersebut (yakni; perkara-perkara batin yang terdapat di dalam hati, maupun perkara-perkara zhahir, yang dilakukan oleh lisan dan anggota tubuh). Karena awal ayat ini mencakup perkara-perkara batin yang terdapat di dalam hati, dan akhirnya mencakup perkara-perkara zhahir, yang dilakukan oleh lisan dan anggota tubuh. Dan terkadang kata "Al-Birr" digunakan secara khusus dalam kata "birrul walidain" (berbakti/berbuat baik kepada orang tua).

Maksud dari Sabdanya "…dan dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat orang lain". Di antara perbuatan dosa, ada yang sangat jelas (bahwa itu perbuatan yang terlarang dan berdosa). Dan di antara perbuatan dosa, ada yang membuat hati gelisah dan membuat jiwa resah. Dan pelakunya tidak suka jika ada orang lain melihatnya atau mengetahuinya, karena perbuatan itu termasuk perbuatan yang memalukan jika dilakukan. Sehingga, pelakunya selalu merasa khawatir (jika perbuatannya diketahui) dari pembicaraan orang-orang.Dan yang dimaksud dengan Al-Itsmu (dosa) dalam hadits ini adalah mencakup semua jenis maksiat, yang jelas maupun yang samar (syubhat). Bahkan terkadang dikaitkan pula dengan Al-'Udwaan (permusuhan).

Maksud dari Sabdanya di awal hadits Wabishah "Bertanyalah kepada hatimu!".Dan di akhirnya "…meskipun orang-orang senantiasa membenarkanmu", menunjukkan bahwa segala sesuatu yang padanya terdapat syubhat atau hal yang meragukan yang membuat hati tidak tenang, jalan keluar agar kita selamat dari hal itu adalah dengan cara meninggalkannya, walaupun banyak orang menganggapnya boleh.Adalah bahwa orang beriman yang takut dan bertakwa kepada Allah, maka ia tidak akan memberanikan diri untuk melakukan sesuatu yang membuat hatinya tidak tenang. Terlebih lagi jika fatwa (pembenaran) tersebut berasal dari orang yang tidak memiliki ilmu (agama). Namun, terkadang pula berasal dari orang yang berilmu, akan tetapi fatwanya (pembenarannya) tersebut tidak berdasarkan pada dalil sama sekali. Adapun jika fatwanya berdasarkan pada dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka tidak ada jalan lain kecuali mengikuti fatawa dan pembenaran tersebut. Dan (satu hal yang perlu diperhatikan di sini, bahwa) fatwa/ pembenaran hati tidaklah berlaku untuk orang-orang yang buruk (banyak berbuat dosa) dan ahli maksiat. Karena banyak (sekali) di antara mereka yang jelas-jelas melakukan maksiat secara terang-terangan, dan mereka tidak merasa malu sama sekali, kepada Allah maupun kepada makhluk-Nya. Orang-orang seperti ini, jelas-jelas telah melakukan keharaman yang jelas, maka melakukan hal-hal yang syubhat, mereka jauh lebih hebat lagi (lebih terang-terangan lagi).

Sumber : Terjemah Kitab Fat-hul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba'in wa Tatimmatul Khamsin,Syaikh 'Abdul-Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr



Demikianlah Artikel Hadist tentang masalah kebajikan, Semoga dengan adanya artikel singkat seperti Informasi postingan Hadist tentang masalah kebajikan ini, Anda benar benar sudah menemukan artikel yang sedang anda butuhkan Sekarang. Jangan lupa untuk menyebarluaskan informasi Hadist tentang masalah kebajikan ini untuk orang orang terdekat anda, Bagikan infonya melalui fasilitas layanan Share Facebook maupun Twitter yang tersedia di situs ini.

Back To Top
close